Ngantri Seblak

Seblak makanan yang tenar beberapa waktu lalu dikalangan remaja, bagi saya apa yang menarik dari makanan ini, kok remaja pada suka, banyak yang nyari mau ngantri berlama-lama.

Saya perhatikan sepanjang jalan di sepanjang kantor kecamatan, awal saya hitung ada 5 penjual seblak, saat awal kemunculannya makanan seblak ini digemari.

Hari ini anak minta seblak, saya turuti, saya amati sepanjang jalan kok tidak ada lagi, ada satu penjual seblak, begitu berhenti tepat dilapaknya, si penjual sedang sibuknya disela-sela itu, masih menerima pembeli " berapa pak, tapi nunggu pak" katanya, sambil tangannya menulis pesanan pembeli.

Saya pun ikut antri, antrian yang ketiga, naluri blogger yang suka belajar, mengamati, saya pun menikmati antrian dengan memperhatikan bagaimana proses membuat seblak dan kelihaian sang penjual.

Kecepatannya dalam memasak kemudian membungkusnya menunjukkan sebuah keahlian, batin saya berkata sudah profesional.

Dan sepertinya berlaku untuk semua ketika sudah ahli profesional, ini disukai banyak orang, salah satunya dari penjual seblak ini, lainnya sudah tutup lapaknya, penjual seblak ini masih eksis, bahkan orang mau nunggu antri.

Karena sudah ahlinya, meski antrian lama, orang mau menunggunya, karena memasaknya yang cepat dan tentunya soal rasa sebagian orang cocok, bayangin kadang ada yang pesan 3 bungkus, 2 bungkus, kalau masaknya lama, pastinya orang enggan untuk mengantri.

Pesan pembelajaran dari pengamatan ini sih, dalam bisnis usaha seblak, yang pertama rasa dan bagaimana keahlian pengolahan memasak, kemudian kebersihan tempat.

0 Komentar untuk "Ngantri Seblak "